Malam itu, aku pulang larut sekali dari kampus. Dengan wajah yang penuh dengan keluh, aku terus menyusuri jalan komplek yang sepi. Meskipun temanku menawarkan kamarnya untuk dibagi denganku, aku tetap memilih untuk pulang saja. Karena, tidak ada yang senyaman kamar sendiri. Lagipula, meskipun larut malam, kosanku tak pernah sepi. ' Pasti ada yang masih bergadang ' kataku dalam hati dengan masih berjalan.
Memang, cerita mistis yang pernah diceritakan oleh teman-teman kosanku, mengenai komplek ini membuatku merinding ketika mendengarnya. Tapi, aku mencoba untuk terus berjalan dan menghilangkan segala pikiran negatif. ' Katanya, di pertigaan sana, selalu ada penampakan yah ? ' Ternyata, pikiranku sudah melampaui batas keberanian. ' Aaaahh.. tidak tidak ' Aku mempercepat langkah saat akan melewati pertigaan yang memang diterangi lampu jalan disetiap sisinya. Apalagi, disalah satu sisi jalan yang diterangi lampu, ada kursi putih yang berkarat terlihat begitu menyeramkan. Dan katanya, disitulah seorang gadis akan menampakkan dirinya. Berpikir seperti itu, langkahku kini berubah menjadi lari-lari kecil. Saat aku melewati akan melewati kursi putih itu, langkahku terhenti. Aku berfikir untuk menelepon teman kosanku agar setidaknya aku merasa ditemani. Tapi, tuut...tuuutt...tuuut.. panggilanku tidak dijawabnya. Aku menelpon pada temanku yang lain, tapi semua panggilan sama. ' Ada apa ini? ' Entah kenapa, aku mulai merasa takut dan tidak ingin melewati ataupun melihat kursi putih itu. Udara yang dinginpun mulai terasa di sekelilingku ' Apaan sih ini? ' Dengan kesal, aku terus menekan tombol panggilan pada setiap nomor yang ada di handphoneku. Semua panggilan selalu berbunyi tuuutt...tuuutt..tuuutt..
Dan tiba-tiba, saat aku akan menekan tombol panggilan lagi, ditelingaku terdengar tuuutt...tuuutt...tuuutt... Ini bukan bunyi dari suara panggilan. Tapi, ini seperti seseorang yang berbisik tepat ditelingaku. Aku memejamkan mata dan menutup telingaku dengan kedua tangan.
Tapi, aku mulai berfikir rasional. ' Aku harus berlari, aku harus pergi dari sini ' Jeritku dalam hati. Aku berlari dengan mata dan telinga yang tertutup. Tiba-tiba saja, duk !!. Kakiku menabrak sesuatu. Tanganku mulai meraba untuk mencari tahu. Tapi mataku masih belum menunjukkan keberaniannya. Aku mulai menafsirkannya ' Ini sepertii,, spertii.. kursi? ' Aku tersentak, aku menyadari sesuatu ' Apa ini, kursi putih itu? ' Mataku terbuka begitu saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terdiam dengan rasa takut. Lalu, ' Ciii..cak.. Ciii cak di dinding... di am di am me ra yap ' Ada seseorang yang sedang duduk disudut kursi dan bersenandung. Liriknya dibuat patah-patah dan lagu ceria itu seketika menjadi menakutkan. Tidak, seseorang itu tidak hanya duduk dan bersenandung. Tapi, tangannya juga merayap-rayap ke tubuhku. Dengan penuh rasa takut, aku mulai membalikkan badan ke arahnya. Aku mencoba memberanikan diri
Aku melihat seorang gadis memakai baju putih dengan rambut kusut yang panjang dan wajah yang pias penuh darah menatapku. Dia tertawa dengan tangannya yang masih meraba-raba tubuhku. Aku berteriak dan berlari sekenkang-kencangnya menuju kosanku yang kulihat lampu terasnya sudah dimatikan. Aku menggedor-gedor gerbang dan terus memencet bel, berharap ada seseorang yang datang dan membukakan gerbang. Dan, diantara kegelapan, aku melihat seseorang menghampiriku. Aku merasa lega. Tapi, ternyata, sosok gadis itulah yang menghampiriku. Gadis itu tiba-tiba menampakkan wajah yang menyeramkannya tepat di depan wajahku dan tertawa keras dengan memperlihatkan giginya yang kuning dan keropos.Lalu, tubuhku merasa lemas dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku melihat seorang gadis memakai baju putih dengan rambut kusut yang panjang dan wajah yang pias penuh darah menatapku. Dia tertawa dengan tangannya yang masih meraba-raba tubuhku. Aku berteriak dan berlari sekenkang-kencangnya menuju kosanku yang kulihat lampu terasnya sudah dimatikan. Aku menggedor-gedor gerbang dan terus memencet bel, berharap ada seseorang yang datang dan membukakan gerbang. Dan, diantara kegelapan, aku melihat seseorang menghampiriku. Aku merasa lega. Tapi, ternyata, sosok gadis itulah yang menghampiriku. Gadis itu tiba-tiba menampakkan wajah yang menyeramkannya tepat di depan wajahku dan tertawa keras dengan memperlihatkan giginya yang kuning dan keropos.Lalu, tubuhku merasa lemas dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
Pagi harinya, aku sudah berada dalam kamar. Disekelilingku, aku melihat wajah teman-temanku yang terlihat khawatir. Akupun menceritakan kejadian yang aku kira itu hanya mimpi saja. Tapi temanku bilang, aku memang ditemukan pingsan didepan gerbang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama :
Alamat fb :