Perbedaanlah yang menjadikannya sebagai pemilik gelar. Tidak mudah menjadi bagian dari si beda ini. Karena semua orang terlihat tidak menerimanya. Dia sampai berfikir " Orang-orang menilaiku dari sisi mana? ". Menurutnya, setiap orang memiliki sifat dan sikap yang menjengkelkan. Tapi kebanyakan dari mereka diterima oleh sesamanya. Sedangkan dia tidak mendapatkan toleransi itu.
Setiap saat dia berkumpul dengan teman-temannya, dia melihat satu per satu karakter mereka. "Padahal dia lebih menjengkelkan daripada aku!!" Katanya melihat seseorang yang sedang menghina teman disebelahnya. "Tapi, kenapa dia masih punya banyak teman?" Dia tak pernah tahu.
Tiba di suatu titik, dia semakin merasa tak diterima. Mulailah ia memainkan sebuah peran yang mungkin membantunya menjadi manusia normal pada umumnya. Dia berbaur, beradaptasi dan menjadi yang menyenangkan. Ternyata itu membuatnya lebih baik. Orang-orang mulai membuka diri pada kehadirannya.
Namun, entah kenapa, dia masih merasa kesepian. Lalu dia bosan menjadi seseorang yang diinginkan orang lain. Dia lelah berpura-pura lagi. Sedikit demi sedikit dia membuka topengnya. Alhasil? orang-orang kembali takut.
Menangis adalah satu-satunya cara untuk mengekspresikan tekanan yang ia terima. Orang-orang mungkin tidak sadar dengan yang satu ini. "Mereka egois!!". Dia sempat mempertanyakan jalan cerita tuhan.
Kenyamanan yang banyak diidamkan orang, tidak pernah ia rasakan Walaupun sempat, ia lupa bagaimana memilikinya kembali.
Tahun demi tahun berlalu, Topeng yang sempat ia lepas, ia kenakan kembali untuk melalui tahun-tahun tadi. "Setidaknya, aku tidak terlalu tertekan".
"Munafik?? mungkin orang bodoh yang tidak punya perasaan akan mengatakan hal semacam itu dengan mudah. Tapi, aku melakukan ini sesuai kebutuhan setiap orang. Apakah aku masih salah jika aku melakukannya agar setiap orang merasa nyaman denganku? Aku juga berhak bahagia" Perdebatan di kepalanya tak pernah usai. Selalu ada bisikan seperti itu.
Dia tahu, tak selamanya akan seperti ini...
Ada saatnya harus memperkenalkan jati diri yang sebenarnya..
Dia hanya belum siap.
"Win, mau pulang" Algis menepuk pundaknya. Tapi dia hanya menoleh lalu mengangguk.
"Win gak baik ngelamun sambil jalan. Kalo udah kejedor baru tau rasa haha" Dia ikut tertawa. Padahal, candaan tadi tidak mengundang tawa sama sekali. 'Menghargai' yakinnya dalam hati.
Winola adalah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama :
Alamat fb :