“
Benar Indah Rencana-Mu “
Karya
Amalia Madah
J
Aisi.. J
‘Somewhere over the rainbow
way up high, there's a land that I
heard of once
In a lullaby..... ‘
Angela
Zhang bernyayi sangat merdu, membuat pikiranku sedikit kabur. Aku mulai
mengingat lagi masa itu, “ Ah sudahlah..
itu hanya masa lalu, sudah berakhir. “ Gumamku untuk kesekian kalinya. Hari libur
ini, aku memang lebih betah diam di kamar. Terkadang, di situasi yang seperti
ini, pikiranku sedikit ngawur membuka memory lama, “ Ya Allah,,, cukup, aku
minta maaf “ Itulah kata yang terlontar, setiap kali memory usang itu terbuka.
Lipatan tisu yang ku pegang saat ini, menorehkan sesuatu yang tak tahu kenapa
membuatku merasa bersalah. “ Aku bodoh mengucapkan kata-kata terakhir yang
mungkin membuatmu terluka. Harusnya aku bilang, kau temanku selamanya. Aku
menyayangimu juga Maria. “ Dan aku menangis lagi..
***
“
Aisi,,, cepat!!! ntar kesiangan tau! “ Suara lengking Maria membuat tanganku
gesit memasukkan tali sepatu ke rongga-rongganya. “ Umi,, kenapa tali sepatunya
belum di pasang sih?? “ Aku marah-marah sendiri. “ Iya maaf sayang, umi lupa,
sini umi bantu yah. “ Umi duduk di dekatku, dan mulai menyelesaikan keruwetan
yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan mudah. “ Umi.. aku berangkat yah. “ Aku
dan Maria menyalami umi dan bergegas menuju sekolah.
Hari
pertama masuk Madrasah Tsanawiyah, membuat aku dan Maria sedikit gugup. Karena
kami telah memasuki jenjang yang lebih tinggi. Apalagi, sekarang kami tak lagi
didampingi orangtua. Di hari pertama ini, terlihat anak yang merengek tak mau di
tinggal ibunya, ada juga yang dari tadi hanya diam melihat sekeliling. Seperti
kami, yang hanya duduk diam di bangku.
Aku
melihat Maria. Wajahnya pucat berkeringat, dia tak bersuara, seperti tak
bernyawa. “ Hei,, ia,,. “ Aku menyadarkan lamunannya yang terlalu panjang. Maria
menengok ke arahku, tersenyum, dan setelah itu.. “ Iiiiiiiaaaaaaaa.. “ Aku
mengagetkan anak satu kelas.
“
Umi,,, ia kenapa?? “ Kepanikanku menyeruak saat umi dan tante Lisa ( Ibunya Maria
) datang menjemput kami. Ku lihat wajah tante Lisa yang datar, seperti berkata
‘ ini pasti terjadi ‘. Terlihat aneh, namun aku tak menghiraukan ekspresi itu.
Aku menangis entah untuk apa, yang ada di pikiran gadis kecil sepertiku saat
ini hanyalah ‘ ia kenapa? Apa dia tidak akan hidup lagi? Aku masih mau maen
sama ia Ya Allah’ .
***
Sudah
satu minggu, Maria tak masuk sekolah. Kursi disebelahku kosong, sengaja aku
membuatnya begitu. Karena, aku hanya ingin bersebelahan dengan Maria. Walaupun
begitu, aku berteman baik dengan anak-anak satu kelas. “ Aisyah,, aku duduk
denganmu yah? “ banyak sekali yang menawarkan diri untuk duduk di sampingku.
Karena aku selalu nongol di data nilai tertinggi di kelas. “ maaf yah hani, maria
akan masuk hari ini “ dengan percaya diri, aku jawab seperti itu. Padahal, aku
tak pernah tahu, kapan Maria akan menampakkan diri di kelas.
Aku
benar-benar menunggu Maria, teman kecil yang selalu bersama setiap saat. Tapi
sekarang, aku di sini tanpa Maria. Ingin rasanya menyapa Maria. Tapi, rumah Maria
seperti tak ada kehidupan, sepi dan sunyi. Aku bingung harus bagaimana. Setiap
kali bertanya pada umi, umi selalu menjawab “ Dia mungkin berlibur ke rumah
neneknya di Jakarta. “ Umi bohong, aku tahu itu. Mana mungkin Maria berlibur di
hari sekolah. Apa Maria tak bosan berlibur terus? Sedangkan, Maria selalu
bercerita kalau dia tak suka berada di rumah neneknya. Karena banyak saudara di
sana. Maria tak suka keramaian. Apalagi, beberapa dari saudaranya
menjengkelkan.
Hidup
harus terus berlanjut. Walau tak lagi
berceloteh bersama Maria. Bangku di sebelahku pun sudah tak kosong lagi. Ada
Suny sekarang. Dia orang yang cukup menarik. Dia enak di ajak bicara dan bisa di ajak bercanda. Suny tahu semua
cerita tentang aku dan Maria. Sesekali dia tertawa saat aku bercerita, kalau Maria
pernah menangis dan tidak masuk sekolah satu hari karena ketahuan kentut di
kelas. “ Di tambah lagi, kentutnya bau dan meledak-ledak,, hahaha “. Suny juga
bercerita tentang masa kecilnya. Namun, yang membedakan masa kecilku dengan Suny
adalah keberadaan Maria. Ceritaku lebih menarik karena adanya Maria. Maria tak
pernah tergantikan. Walau sekarang ada Suny, tapi Maria masih di sini, di
hatiku.
Terkadang,
aku bertanya pada angin, “ Ia lagi apa? Dia dimana? Apa dia masih ingat aku? “.
Meski angin bisu, tapi Allah tak tuli. Dia selalu mendengar hambanya. Dia akan
mendengar kerinduanku pada Maria, dan Dia akan menyampaikannya.
“ Ya Allah,, jagalah ia tetap
bersama-Mu, katakan padanya, aku merindukannya, aku ingin bertemu teman
kecilku. Semoga Ia masih mengingatku. “
Setiap
kali ku lewat depan rumah Maria, ku lihat lekat-lekat jendelanya. Terkadang aku
memanggilnya “ Iiiaa “ berharap Maria melambaikan tangan dan menyapaku. tapi
hal itu tak pernah terjadi. Meski begitu, aku selalu melakukannya setiap hari.
Dengan alasan ‘ tak ada yang tak mungkin ‘.
***
Zaman
mengajarkan berbagai kecanggihannya. Aku mulai mengenal jejaring social.
Facebook, twitter, e-mail dan serangkaiannya. Aku ikut meramaikan dunia maya.
Setiap hari, ku buka e-mail, ku balas pesan, dan ku tekan icon logout. Seperti
itu setiap saatnya. Namun, ada yang berubah. Saat ku temukan nama Maria di
urutan paling atas di kotak masuk e-mail. ‘
Apa ini Maria, sahabat kecilku? ’ prasangka itu mulai memenuhi isi kepala.
Jika iya, aku sangat senang sekaligus marah. Karena, dia telah berani melupakan
sahabatnya selama ini. Dengan cepat, ku gulirkan mouse dan ku klik pesan
berisikan namanya.
|
Subject : long time no see J
Assalamu’alaikum Aisi..
Gimana kabar Aisi? Ia disini baik. Aisi
juga harus baik yah J ia kangen Aisi
sangat J
|
Sedikit
kesal aku membaca surel yang dikirimkan Maria. Singkat dan padat. “ Ya Allah,, ia,
aku menunggu kamu bertahun-tahun. Dan kamu hanya menyapaku segitu ia?? Segitu??
“ kataku kesal. Aku mengurungkan niat untuk membalas surelnya. Tiba-tiba saja
air mataku keluar . Aku menjerit sekencang-kencangnya “ Iiiaaaa kamu
keterlaluan… “ di lanjutkan dengan tangis. “ Sayang kenapa?? “ Umi menegurku
dari balik pintu. Aku hanya diam dalam tangis. Teguran umi tadi, ku anggap
angin lalu. Sungguh Maria sangat keterlaluan.
“ Somewhere over the rainbow, way
up high, there's a land that I heard of once In a lullaby, Somewhere over the
rainbow, Skies are blue and the dreams that you dare to dream really do come
true,Someday I'll wish upon a star and wake up where the clouds are far behind
me, Where troubles melt like lemon drops oh way up above the chimney tops,
Thats where you'll find me “
Dalam
gelap itu, aku melihat seorang anak kecil bersepeda. Dia bersenandung. Tak
asing lagi wajahnya. “ Aisi.. ayo kita main. Sebelum aku pulang “ anak itu melambaikan
tangan ke arah lain dengan sepeda yang masih berputar-putar di sana. Tiba-tiba
anak kecil di seberangnya menjawab “ aku capek, kamu jahat “ . Anak kecil itu
berhenti mengayuh sepeda, dan dia menunduk seperti sedang menangis melihat
temannya pergi tak mau bermain.
Aku
terbangun. Kepalaku pening. “ aaawwwww.. “ aku sedikit memukul-mukul kepalaku.
Mata yang sembab mengingatkanku pada surel Maria tadi. Aku sempat tak percaya
hari ini terjadi. “ Allah telah mempertemukan kita ia. Dia pasti punya rencana indah untuk kita, tapi kenapa
kamu seperti itu? “ gumamku. Mimpi tadi, membuatku sedikit kecewa “ kenapa di
mimpi itu aku yang terlihat jahat? Tak adil “. Ku buka lagi e-mailku. Ku lihat lagi surel
dari Maria. “ baiklah ia,, jika itu memang keinginanmu. “ tanganku mulai
menekan satu persatu keypad komputer. Dengan setengah hati, ku tekan send. Dan
setelah hari itu, aku tak pernah lagi menyapa akun e-mailku.
***
“
Hah… hari yang melelahkan “ ku rebahkan tubuhku di atas kursi dekat TV. Ku
pejamkan mata. Mimpi pun mulai menyapa. Namun tak lama, dering telepon di ruang
tengah memecah kesunyian alam mimpi. “ Umi.. “ aku memanggil umi, namun tak ada
jawaban. Aku mengabsen semua orang yang biasanya ada di rumah, tapi nihil. “ Kemana
sih orang-orang? “ dengan sedikit kesal, aku bangkit dari pemalasan. Ku hampiri
kebisingan itu. “ iya, halo, assalamu’alaikum “ suaraku ternyata belum
sepenuhnya bangkit, jadi terdengar lemas.
Waktu
terasa berhenti. “ ini gak mungkin!! Ia…. “ seketika tubuhku lemas seperti tak
ada lagi tenaga. Aku mencoba mengangkat lagi gagang telepon yang tak terasa aku
jatuhkan. “ Umi sekarang lagi dimana? “. Umi menyebutkan tempat yang tak asing
lagi. Dengan gemetar, aku berusaha mengeja kata “ Umi, aku kesana yah “. Setelah
ku pastikan gagang telepon benar-benar di tempatnya, aku berlari keluar rumah.
Tak diperhatikan, aku keluar tanpa jilbabku. Kewarasanku benar-benar hilang.
Yang ada di pikiranku hanya ‘ Maria ‘ .
Hari
ini, tempat sunyi itu ramai. Aku tak berani, aku tak sanggup pergi kesana. “ Ya
Allah,, apa ia akan memaafkan aku ?? Hamba menyesal Ya Allah “. Sungguh
keterlaluan, aku membalikkan badan, aku benar-benar mengurunkannya. “ Aisi!!! “
Suara itu menghentikan langkahku. “ aku minta maaf ia “ tangisan ini begitu
sesak. Aku tak percaya, setelah sekian lama, aku mendengar suara lengking itu
lagi. Memang terasa tak mungkin. Tapi aku mendengarnya. Aku tak peduli, aku
terus melangkah. Sampai akhirnya, ada tangan yang meraihku, menangis memelukku.
“ sapa lah dia yah.. “ Umi menggendongku masuk. Aku meronta. Aku menangis
sekencang-kencangnya agar umi tak meneruskan langkahnya dan membawaku pulang.
Tapi umi berjalan semakin cepat menuju tempat yang saat ini aku benci.
Aku
melihat teman kecil yang hilang. Dia disana, benar-benar disana. Aku tak
percaya bisa melihatnya lagi. “ Iiiiaaaa.. “ aku memanggilnya lirih. Tubuhnya
sangat dingin. Aku mencoba menghangatkannya. Dengan erat, ku peluk tubuhnya
yang kaku. “ Ia,, aku sangat rindu padamu. Dan sekarang kita bertemu. Aku
senang bisa menyentuhmu lagi “. Air mataku pun ikut berduka. Aku tak mau
melepaskan moment ini. Moment dimana aku bisa bencengkrama lagi dengan Maria. “
Ia,, jangan pergi.!! “ aku berteriak saat orang-orang itu akan membawa Maria. “
dia harus diantar ke peristirahatan terakhir “ mereka melepaskan cengkramanku.
Aku sungguh tak berdaya. Tiba-tiba saja tubuhku lemas, kepalaku terasa pusing.
Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi.
***
“
Aisi… kita akan bersekolah bersama lagi, hehe “ Maria tersenyum, dia
menunjukkan keriangannya. “ tapi, kamu tak bisa masuk sekolahku “ aku mencoba
mempertegasnya kembali. “ Ibuku sudah mengaturnya. Setidaknya itulah yang ibuku
katakan. “ Maria meyakinkanku. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengerti keinginannya.
Kita berbeda agama. Dia kristiani dan aku seorang muslim. Dia tak bisa
bersekolah di tempatku ( Madrasah Tsanawiyah ), itu melanggar norma agamanya.
Maria mulai merajuk, dia mengira aku tak mau berteman lagi dengannya. Meski
begitu, Maria datang ke rumahku dan mengajak pergi ke sekolah bersama. “ Umi,,
masa Maria mau sekolah di sekolahku ? “ aku berbisik pada umi yang sedang
membantuku memakaikan sepatu. “ untuk Maria,
boleh sayang “ Umi menjawab datar, lalu mencium keningku. Aku masih bingung, tapi
aku percaya pada jawaban umi. Karena umi lebih tahu.
“
Maria “ aku menyodorkan sesuatu. “ Ini apa Aisi? “ Maria menghentikan
langkahnya seketika. “ Itu jilbab, kau harus memakainya kalau memang mau masuk
“ tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung memasuki gerbang sekolah. Maria
menyusul langkahku. Dia sudah memakai jilbabnya dengan baik. “Makasih yah Aisi,
kau memang temanku yang baik “ Maria tersenyum lagi. Aku kesal melihatnya
selalu begitu. ‘ seharusnya kalau kesal,
bilang saja ‘ kataku dalam hati. “ Aisi,, kita duduk sebangku kan? Harus
yah Aisi!! “ aku hanya mengangguk mengiyakan. Maria memang sedikit polos, dia
tak pernah marah walau aku selalu membuatnya kesal. ‘ Mungkin karena dia tak punya teman lagi selain aku, jadi dia selalu
menjaga perasaanku ‘ pikiranku mulai berprasangka lagi. ‘ Astagfirullah ‘ “ Maria maaf yah “ Istigfar yang aku ucapkan tadi, membuka
pikiranku. “ Kenapa Aisi? “ Maria tak mengerti.
***
“ Sayang,, kamu tidak mau ikut
menengok Maria? “ suara umi cukup mengagetkan aku yang sedang bernostalgia.
Dengan begitu rapi, pikiranku mulai membereskan berkas-berkas lama itu dan
menyimpannya kembali. “ Iya Umi, sebentar lagi aku turun “. Aku mulai
membereskan diri. Ku simpan gumpalan tisu yang ku pegang, di dalam kotak kecil.
Dimana, di sanalah benda-benda dari Maria kusimpan. Aku bergegas turun untuk
menghampiri umi yang dari tadi sudah kesal menungguku di depan rumah. Setiap minggu,
kami menengok makam Maria, kami mendoakannya. Maria pergi membawa nama Allah,
dia seorang muslim. ‘ subhanallah ‘
Allah memang mempunyai rencana indah untuk kita, Maria. J
J
Ia, Maria J
“ Ibu,, sudah berapa minggu
sekarang? “ aku bertanya lagi. “ Sayang,, apa maksudmu? Dokter itu bohong “ Ibu
mengelus kepalaku yang botak. “ Ibu yang bohong! “ Aku kesal saat ibu memberikan harapan kosong.
Jelas-jelas aku mendengarnya sendiri, kalau hidupku tak lama lagi. “ Sayang, Ibu
tak bohong “ Ibu memelukku dan menangis. “ Ibu,, aku ingin pulang. Aku ingin
bertemu dengan Aisyah, dia pasti khawatir. “ permintaan yang sama setiap hari.
Tapi, Ibu tak mengijinkanku pulang. Padahal, jika hidupku benar-benar akan berakhir
dalam jangka waktu yang dekat, aku ingin menghabiskannya dengan Aisyah. Hanya
dia yang bisa menghiburku. Aku senang meningat-ingat dia. Aku selalu tertawa
sendiri. Apalagi saat dia membelaku di sekolah dasar dulu.
***
“
Jangan tertawakan Maria, kalian akan berurusan denganku. “ dengan berani,
Aisyah membelaku di depan kelas. Meskipun aku tahu kalau dia juga ingin tertawa,
tapi dia menahannya. Karena ingin menjaga perasaanku. Brrruuuuuuuttttt “ Aisi.. kentutnya gak mau berenti “ aku merengek malu, kentutnya semakin menggila. Biasanya,
efek samping dari obat yang ku makan setiap hari, keluar saat malam atau pagi
hari. tapi, hari ini berbeda. Efeknya keluar saat aku berada di kelas, saat
pembelajaran sedang berjalan. Sungguh memalukan. “ Heiii,,, kalian, sudah ku
bilang jangan tertawakan Maria!! “ Aisyah terlihat seperti pahlawan cilik.
Anak-anak satu kelas langsung berhenti tertawa. Tapi malah melihatku dengan tatapan
aneh. aku menangis sejadi-jadinya. Dan keesokannya, aku tak masuk sekolah
karena malu. Konyol, tapi itu masuk
akal bagi anak berumur 9 tahun.
***
“
Aisi… lihat aku sekarang. Aku tidak lagi Maria yang dulu. Aku jadi botak.
Mungkin kamu tidak akan mengenaliku. Apalagi, sekarang wajahku tirus. Tidak
tembem seperti dulu. Aisyah,, kamu lagi
apa yah kira-kira?? Aku kangen banget,, “ Cermin ini sudah seperti Aisyah.
Padahal, yang ada di cermin itu hanya bayanganku saja. Terkadang, aku selalu
menangisi keadaan. Tapi, aku selalu ingat ucapan Aisyah dulu. “ Kamu jangan cengeng!! Kalau nangispun, tidak akan merubah keadaan ia. “
dengan ingatan itu, aku juga selalu mengusap air mataku. Meskipun Aisyah tak
ada, tapi dia seperti ada. Dia seperti selalu di dekatku.
Waktu
terasa semakin sempit. Aku mulai merasa gelisah. Aku seperti melihat bayangan
gelap berada didekatku. Bayangan itu seperti akan menerkamku. ‘ Apa itu yang namanya Malaikat Maut? ‘ tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri. “
Sudahlah Maria, jangan berpikir yang tidak-tidak “ gumamku. Aku jadi ingat
sesuatu. Dulu, aku pernah meminta kitab suci milik Aisyah. Karena, aku suka
bentuk tulisannya yang indah. Aisyah menyebutnya Al-qur’an. Aku mengendap-endap membukanya. Sayang, aku tak bisa membacanya.
Jadi, aku selalu menyuruh suster yang datang memeriksa keadaanku untuk
membacakannya. Mendengar lantunan Ayat-ayat itu membuat kegelisahanku hilang.
Benar-benar membuatku tenang. Terkadang, lantunan itu membuatku terlelap. Aku
senang bisa mengenal Aisyah. Entah kenapa, semua terasa jadi lebih baik
karenanya. Terimakasih Aisyah J.
Sesekali,
aku bertanya pada suster tentang ruang lingkup Islam. Aku juga pernah bertanya
bagaimana caranya masuk Islam. Ternyata, hanya dengan hati yang sungguh-sungguh
dan mengucapkan 2 kalimat syahadat. “ Kamu berminat masuk Islam Maria? “
pertanyaan suster Anisa membuat hatiku sedikit tersentak. Ingin rasanya bilang
iya, tapi aku belum yakin sepenuhnya. “ Kalau belum yakin, jangan dipaksakan.
Allah tak suka jika ada hambanya yang setengah-setengah dalam menjalani
rutinitas Islam. “ mendengar tanggapan suster Anisa, sedikit membuat keyakinanku
pada yesus tergoyahkan. ‘ maafkan aku
bapa ‘.
Sebenarnya,
aku tak ada niat untuk ini. Tapi mungkin karena kepenasarananku, aku selalu
bertanya, bahkan aku berguru pada embah google
untuk mengetahuinya. Tanpa sepengetahuan Ibu tentunya. Semakin hari,
kerohanianku terhadap tuhan yesus semakin teriris tipis. Aku coba membuka kitab
injilku. Berharap keyakinanku bisa terselamatkan. Tapi, aku merasa, aku lebih
menyukai Al-qur’an. Aku lebih percaya pada semua yang dibicarakan Al-qur’an. ‘ Astaga bapa, apa yang terjadi padaku? ‘. Aku
mencoba menjernihkan kepalaku.
Sore
itu, aku masih berseteru dengan batinku. Aku membuka Al-qur’an. Aku coba
mengeja setiap Ayatnya. Lalu bruuukk terdengar
ada seseorang yang menjatuhkan sesuatu. “ Ibu!! “ aku kaget melihat ibu yang sudah ada
didekatku. “ Apa itu Maria? “ Ibu terlihat marah. “ Ini,, “ aku tak sangup
memberitahu ibu. Ibu merebut Al-qur’an yang ada di tanganku dengan paksa. Ibu
akan membuangnya. “ Ibu jangan!! Aku ingin masuk Islam “ kata yang tak sengaja
aku lontarkan itu, membuat ibu menghentikan langkahnya. “ Apa kamu bilang? “
Ibu benar-benar terlihat marah.
***
Sudah beberapa hari ini, ibu tak mau
bicara padaku. Aku sungguh tak habis pikir. Ternyata, masuk Islam tak semudah
membalikkan telapak tangan. ‘ Kalau saja
ada kamu Aisi ‘ aku selalu berharap begitu. Karena Aisyah adalah seseorang
yang pintar mencuri hati orang lain. Dia juga sangat pintar kalau ditanya
tentang ruang lingkup agama Islam. Bahkan, karena pidatonya saat perpisahan di
Sekolah Dasar dulu, membuat ibu berpikir “ Apa Islam seindah itu yah? “. Kalau saja
ibu memutar memorynya ke belakang. Mungkin tak akan serumit ini jadinya.
“
Maria,, apa landasanmu? “ akhirnya Ibu mau menegurku lagi. “ Aku tidak tahu bu.
Mungkin karena aku telah mengenal Islam. “ aku menundukkan kepala. “ Seberapa
kenal kamu dengan Islam? “ Suara Ibu terdengar sinis. Aku takut. “ Maria memang tak terlalu kenal dengan Islam
bila di bandingkan dengan Agama Bapa. “ suaraku melemas. Tak disangka, aku
mengalahkan argumenku sendiri. “ Lantas, kenapa kamu ingin berpindah keyakinan?
“ Ibu masih memojokanku. “ Hatiku yang memilihnya bu! “ aku menatap mata Ibu,
seperti berkata ‘ Aku sangat yakin bu ‘
Ibu tak membalas tatapanku. “ Lakukan apa yang kau inginkan “ Ibu membalikkan
badan dan pura-pura menyibukkan diri. Padahal terdengar isakan disana.
“
Ibu tak habis pikir. Aisyah tak ada disini. Tapi kamu masih bilang seperti itu
sampai sekarang. “ Ibu mulai mengungkit masa lalu saat aku ingin masuk sekolah
Islam ( Madrasah Tsanawiyah ). “Ibu kira kamu hanya ikut-ikutan saja karena
Aisyah masuk sekolah itu “ suara Ibu melemas. “ Aku mempelajarinya sampai
sekarang bu. Aku akui. Dari kecil saat mengenal Aisyah, aku juga sedikit
mengenal Islam. Dan aku tertarik “ air mataku tak tertahankan lagi, hingga
akhirnya aku menangis. “ Apa yang telah Aisyah lakukan padamu?! “ Ibu sedikit
menyentakku. “ Aisyah tak melakukan apapun padaku. Tapi, sikapnyalah yang berbicara
pada batinku bu “ aku benar-benar menangis.
Setelah
perdebatan yang panjang, akhirnya ibu mengangguk mengiyakan. Saat aku
mengutarakan alasan yang terpikirkan begitu saja. “ Di dunia ini, kita masih
mencari jati diri bu. Termasuk keyakinan. Aku melakukan ini bukan hanya
ketertarikan saja. Tapi sudah terbenam keyakinan di hatiku. Ini yang dinamakan
Iman. Aku mempelajari Islam dari nol. Bukan karena Aisyah, tapi karena Allah.
Memang Aisyah yang menunjukkan jalannya. Tapi aku juga yang memilih masuk ke
jalan itu. Pahamilah bu. Aku tidak akan menyesal “ meskipun semua terluapkan, tak
ada rasa benci. Ibu masih menyayangiku. Bahkan, ibulah yang memanggil suster
Anisa untuk menuntunku menjadi seorang mu’alaf yang sah di mata Allah. ‘ Ibu terimakasih ‘.
‘ Aisi memang tak ada, tapi
kenangannya menjadi guru terbaik untukku. Ya Allah.. dimanapun Aisyah berada.
Bilang padanya, aku sangat merindukannya.. aku menyayanginya ‘ J
***
“
Ibuuuu.. “ suaraku seperti tercekik. Tapi ibu tak ada. Hari ini, aku
benar-benar tak bisa mengontrol nafasku yang semakin sesak. Di meja itu,
terlihat laptop ibu menyala. Aku menghampirinya dan mulai membuka e-mail yang
waktu itu ibu buatkan untukku. Kalau-kalau nanti, aku ingin bertukar kabar
dengan Aisyah. Dulu, aku memang tak ingin bertukar kabar dengan Aisyah. Karena
aku tak mau berbagi kepiluan dengannya. Tapi tak disangka, umurku tak
mendukungku. Dia tak memperbolehkan aku menyapa temanku.
Dengan
tangan yang gemetar, aku mulai mengetik. Aku bingung harus mengirim pesan apa.
Karena takut waktu akan hilang. Aku langsung mengirim pesan singkat. “ aku
harap kamu senang Aisi “ kataku lirih. Aku menunggu Aisyah. Nafasku seperti
akan hilang. Tapi aku tak mau menyerah. Ku ambil selang oksigen, dan ku pasang
tepat dihidungku. Oksigen ini sedikit membantu. Aku bisa mengatur nafasku,
walau masih terasa sesak. Beberapa jam kemudian, terdengar tanda pesan masuk.
Tanganku benar-benar lemas. Aku menguatkan diriku, dan kulihat pesan balasan
dari Aisyah.
|
Subject : kenapa sekarang?
Wa’alaikumsalam,,
Aku tak menyangka kamu bisa mengeja
kata salam dengan baik. Tapi ternyata kamu tak bisa mengeja kalimat lebih
banyak lagi. Aku sangat kecewa dengan surelmu. Aku kira kekangenanmu sangat
meluap. Tapi ternyata kamu tak seperti yang aku pikirkan. Mungkin kamu udah
punya teman yang baru. Kamu sudah melupakan aku kan? Aku juga akan
melupakanmu. Dulu aku berpikir, kita dipertemukan karena ada alasan yang
indah. Tapi aku salah.Aku baik-baik saja. TerimakasihJ
|
Aku
benar-benar malu pada diriku sendiri. Aku tak bisa mengucapkan kata perpisahan
dengan baik. Saat akan membalas, jaringan internet tiba-tiba terputus. Lalu,
aku menuliskan surat di atas tisu. Karena tak ku temukan kertas disini.
Dear Aisi..
Apa aku benar-benar bisa mengeja salam
dengan baik? Aku senang J
Aisi, maaf membuatmu kecewa. Keadaan
di sini tak mendukungku. Aku senang mendengar kabar baik darimu.
Kamu tahu tidak? Aku masih menyimpan
kitab sucimu. Dan kitab suci itulah yang membuatku melangkah ke jalan-Nya.
Dan itu berkatmu. Kamu adalah sosok muslim yang baik. Allah membuat rencana
yang benar-benar indah untuk kita. Meskipun kita tak bersama, tapi kamu
selalu terasa ada didekatku. Cerita-cerita kita menemani keseharianku.
Aku tak mau kehilangan teman
sepertimu. Aku tak pernah melupakanmu sedetikpun. Aku berharap kamu tidak
akan melupakan aku. Aku sangat merindukanmu.
Aisi,, mungkin kita tak akan bertemu
untuk bermain seperti dulu lagi. Aku sungguh ingin melihatmu, aku juga ingin
mendengar cerita keseharianmu. Disini sangat membosankan Aisi J
Kamu masih ingat gak sama jilbab yang
pernah kamu kasih ke aku? Jilbab itu mengantarkan aku. Aku menganggapnya
kamulah yang mengantarkan aku Aisi J
Aku menyayangimu selamanya. Kamu
temanku selamanya, apapun yang terjadi J
|
Aku
memakai jilbab satu-satunya yang kupunya, yang di berikan Aisyah dulu. Jilbabnya
memang sudah agak kusam. Tapi, jilbab inilah yang harus mengantarkanku.
Setidaknya agar aku merasa ada Aisyah disini. Aku menunggu ibu. Aku ingin
mengucapkan sesuatu. Aku ingin mengucapkan kata perpisahan yang baik. Aku tak
mau mengecewakan orang lain. Cukup hanya Aisyah yang aku kecewakan.
“
Maria!! “ terlihat sesosok wanita yang menyayangiku. Ibu terlihat panik melihat
keadaanku. Aku hanya tersenyum melihat ibu. “ Ibu,, aku minta maap. Aku sayang
ibu. “ kataku lirih. Suaraku nyaris tak terdengar. “ Sayang.. kamu kenapa? Apa
yang harus ibu lakukan? “ tangisan ibu membuatku menangis. Aku tak menyangka
hari ini terjadi. Aku benar-benar takut. Aku tak menyangka akan meninggalkan
orang yang aku sayangi, Aisyah dan ibu. ‘
Inikah yang dinamakan sakaratul maut Ya Allah? ‘ Nafasku benar-benar sesak.
“ Panggilkan suster anisa bu “ suaraku melemas. Tiba-tiba aku melihat ada
makhluk aneh di sekelilingku. Menyerupai ibu, ayah dan keluargaku. Ada Aisyah
juga disini. Mereka membisikkan sesuatu. Aku mendengarkan Aisyah “ Jalanmu
salah. Ikutlah denganku maria”. Aku benar-benar mendengarkan Aisyah. Tapi
akhirnya, aku mendengar lantunan syahadat tepat ditelingaku. Sangat indah. Tak
tahu kenapa, aku mengikuti lantunan itu begitu saja. Aku terus mengucapkan
syahadat. Sementara itu, nafasku semakin sesak. Yang akhirnya… Aku seperti
terbang, aku meninggalkan jasadku. Aku melihat ibu sedang menangis di
sampingku. Terlihat juga suster Anisa mengusap wajahku dengan mengucapkan “
innalillahi wa inna ilaihi raji’un “.
“Ibu.. suster Anisa, terimakasih
untuk segalanya. Aku menyayangi ibu. Aku juga menyayangi Aisyah.., aku pergi
yah.. aku bahagia sekarang, jangan khawatirkan maria J
“
***
Aisyah
temanku.. aku memang tak bisa bermain denganmu lagi. Kamu tak mungkin bisa
melihatku lagi. Tapi mungkin bagiku, bisa melihatmu. Aku akan sangat merindukan
suasana dulu. Saat aku bisa mengobrol denganmu. Kamu bisa membuatku melupakan
rasa sakitku. Kadang, saat sakitpun, tak aku rasakan karena ada kamu. Sungguh
aneh, kita memang tak bersama. Tapi allah membuat semuanya terasa dekat. Allah
telah menyampaikan kerinduanmu. Dan Allah juga akan menyampaikan kerinduanku.
Inilah rencana indah-Nya. Benar-benar indah bukan? J
surelmu benar, kita memang dipertemukan untuk alasan yang indah. Allah
membuatnya berarti. Allah takkan menghendaki apa-apa dengan sia-sia. Selalu ada
alasan indah. Ada suka dibalik duka.
Maria
J
TAMAT
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama :
Alamat fb :